Jam Kerja Tanpa Batas (Eps 1)

 

Pagi yang Tidak Pernah Sesederhana Itu 

Episode 1


Jam 07.40 pagi.

Langit masih abu-abu tipis. Pool ekspedisi sudah ramai suara mesin dipanaskan. Bau solar bercampur embun. Agung berdiri sambil memegang clipboard baru yang masih terasa asing di tangannya.

Hari pertama sebagai P2H.

Ia menarik napas panjang.

Di rumah tadi pagi, istrinya sempat bertanya,
“Kerjanya berat nggak?”

Agung cuma jawab singkat,
“InsyaAllah biasa aja.”

Padahal dia sendiri belum tahu.

Tugasnya sederhana.

Cek lampu.
Cek rem.
Cek tekanan angin ban.
Cek kebocoran oli.

Tulis.
Lapor ke Dadang.

Dadang berdiri tidak jauh, memperhatikan dengan tatapan orang yang sudah kenyang pengalaman.

“Kerja di sini jangan asal centang,” katanya.
“Kalau kamu salah, yang celaka bisa orang di jalan.”

Agung mengangguk pelan.

Kalimat itu masuk ke kepalanya dan tidak pernah benar-benar keluar lagi.

Hari-hari pertama terasa normal.

Agung jalan dari satu unit ke unit lain.
Tangannya mulai hafal memegang ban, mengetuk bodi, membuka kap mesin.

Ia merasa berguna.

Dan bagi Agung, rasa berguna itu penting.

Karena sejak dulu, ia selalu ingin jadi orang yang bisa diandalkan.

Suatu siang, Wahid mendekat.

“Gung, sparepart ini catat ya. Jangan sampai salah, nanti ribet di uangnya.”

Wahid rajin. Tapi kalau sudah urusan uang atau lembur, dia bisa berubah jadi sangat perhitungan.

“Kalau nanti lewat jam lima, dihitung lembur kan?” tanya Wahid sambil tersenyum tipis.

Agung hanya tersenyum balik.

Ia belum paham budaya lembur di tempat itu.

Baginya, kalau kerja belum selesai ya diselesaikan.

Minggu kedua, mulai ada tambahan kecil.

“Gung, tolong bantu input laporan ya.”
“Gung, tolong pegang sparepart dulu.”
“Gung, tolong antar unit masuk bengkel.”

Kata “tolong” terdengar ringan.

Agung tidak pernah berpikir itu akan jadi pola.

Ia hanya menjawab seperti biasa.

“Siap.”

Sore itu jam menunjukkan 17.20.

Semua sudah mulai bersiap pulang.

Agung masih berdiri di dekat satu unit yang belum selesai dicek.

Dadang lewat dan berkata singkat,
“Bagus. Yang kayak gini saya suka.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi buat Agung, itu seperti validasi.

Ia pulang sedikit lebih lambat hari itu.

Tidak ada lembur tercatat.
Tidak ada tambahan uang.

Tapi ada rasa bangga.

Malam hari, sebelum tidur, ia membuka buku kecil dan mencatat pengeluaran hari itu.

Ia tipe orang yang menghitung masa depan pelan-pelan.

Dalam pikirannya saat itu sederhana:

“Kalau kerja sungguh-sungguh, pasti ada hasilnya.”

Ia tidak tahu bahwa di tempat itu, kerja sungguh-sungguh kadang justru membuat seseorang terlihat “paling bisa disuruh”.

Dan orang yang paling bisa disuruh… jarang sekali berhenti diminta.

Beberapa bulan berlalu.

Agung mulai sering pulang lewat jam lima.

Kadang membantu mekanik memindahkan unit.
Kadang ikut storing sebentar.
Kadang membantu mencatat sparepart karena inventory belum rapi.

Belum berat.

Tapi sudah mulai terasa.

Suatu malam, ia sampai rumah lebih larut dari biasanya.

Anaknya sudah tidur.

Istrinya hanya berkata pelan,
“Capek ya?”

Agung tersenyum tipis.

“Biasa.”

Padahal di dalam dadanya ada rasa aneh yang belum bisa ia beri nama.

Bukan marah.
Bukan kecewa.

Tapi seperti ada sesuatu yang pelan-pelan mulai mengambil lebih banyak dari yang ia sadari.

Dan ia tetap diam.

Karena ia percaya satu hal:

Orang yang sabar pasti akan dihargai.

Ia belum tahu…

Bahwa di dunia kerja, sabar dan diam sering kali dianggap sebagai tanda siap menanggung lebih banyak.

Quote :

“Kadang bukan pekerjaan yang membuat kita lelah,
tapi kebiasaan untuk selalu berkata ‘siap’ tanpa pernah bertanya, ‘sampai kapan?’”


Ide Cerita : emy_haw

Penulis : ChatGPT


 

Komentar

Postingan Populer