Jam Kerja Tanpa Batas (Eps 1)
Pagi yang Tidak Pernah Sesederhana Itu
Episode 1
Jam 07.40 pagi.
Langit masih abu-abu tipis. Pool ekspedisi sudah ramai suara mesin dipanaskan. Bau solar bercampur embun. Agung berdiri sambil memegang clipboard baru yang masih terasa asing di tangannya.
Hari pertama sebagai P2H.
Ia menarik napas panjang.
Padahal dia sendiri belum tahu.
Tugasnya sederhana.
Dadang berdiri tidak jauh, memperhatikan dengan tatapan orang yang sudah kenyang pengalaman.
Agung mengangguk pelan.
Kalimat itu masuk ke kepalanya dan tidak pernah benar-benar keluar lagi.
Hari-hari pertama terasa normal.
Ia merasa berguna.
Dan bagi Agung, rasa berguna itu penting.
Karena sejak dulu, ia selalu ingin jadi orang yang bisa diandalkan.
Suatu siang, Wahid mendekat.
“Gung, sparepart ini catat ya. Jangan sampai salah, nanti ribet di uangnya.”
Wahid rajin. Tapi kalau sudah urusan uang atau lembur, dia bisa berubah jadi sangat perhitungan.
“Kalau nanti lewat jam lima, dihitung lembur kan?” tanya Wahid sambil tersenyum tipis.
Agung hanya tersenyum balik.
Ia belum paham budaya lembur di tempat itu.
Baginya, kalau kerja belum selesai ya diselesaikan.
Minggu kedua, mulai ada tambahan kecil.
Kata “tolong” terdengar ringan.
Agung tidak pernah berpikir itu akan jadi pola.
Ia hanya menjawab seperti biasa.
“Siap.”
Sore itu jam menunjukkan 17.20.
Semua sudah mulai bersiap pulang.
Agung masih berdiri di dekat satu unit yang belum selesai dicek.
Kalimat itu sederhana.
Tapi buat Agung, itu seperti validasi.
Ia pulang sedikit lebih lambat hari itu.
Tapi ada rasa bangga.
Malam hari, sebelum tidur, ia membuka buku kecil dan mencatat pengeluaran hari itu.
Ia tipe orang yang menghitung masa depan pelan-pelan.
Dalam pikirannya saat itu sederhana:
“Kalau kerja sungguh-sungguh, pasti ada hasilnya.”
Ia tidak tahu bahwa di tempat itu, kerja sungguh-sungguh kadang justru membuat seseorang terlihat “paling bisa disuruh”.
Dan orang yang paling bisa disuruh… jarang sekali berhenti diminta.
Beberapa bulan berlalu.
Agung mulai sering pulang lewat jam lima.
Belum berat.
Tapi sudah mulai terasa.
Suatu malam, ia sampai rumah lebih larut dari biasanya.
Anaknya sudah tidur.
Agung tersenyum tipis.
“Biasa.”
Padahal di dalam dadanya ada rasa aneh yang belum bisa ia beri nama.
Tapi seperti ada sesuatu yang pelan-pelan mulai mengambil lebih banyak dari yang ia sadari.
Dan ia tetap diam.
Karena ia percaya satu hal:
Orang yang sabar pasti akan dihargai.
Ia belum tahu…
Bahwa di dunia kerja, sabar dan diam sering kali dianggap sebagai tanda siap menanggung lebih banyak.
Quote :
“Kadang bukan pekerjaan yang membuat kita lelah,tapi kebiasaan untuk selalu berkata ‘siap’ tanpa pernah bertanya, ‘sampai kapan?’”
Ide Cerita : emy_haw
Penulis : ChatGPT
Komentar
Posting Komentar