Jam Kerja Yang Tidak Pernah Usai
Namanya Agung.
Tahun 2018, pagi pertamanya di pool ekspedisi terasa seperti awal yang penuh harapan. Jam menunjukkan 07.45. Bau solar, suara mesin yang baru dipanaskan, dan deretan truk yang seperti barisan pasukan perang. Ia berdiri dengan clipboard di tangan.
Tugasnya sederhana waktu itu: sebagai P2H dia hanya bertugas mengecek unit yang akan keluar maupun masuk ke pool.
Checklist ban, rem, lampu, oli, body, suara mesin. Lalu lapor ke Kepala Mekanik, Dadang.
Dadang, 48 tahun. Tegas. Kadang keras. Tapi Agung tahu satu hal—Dadang percaya padanya.
“Kalau Agung yang cek, saya tenang,” begitu pernah Dadang bilang.
Kalimat itu membuatnya bertahan bertahun-tahun.
Tahun-Tahun yang Pelan-Pelan Berubah
Awalnya hanya cek unit.
Lalu mulai menerima sparepart dari Wahid.
Wahid, 27 tahun. Rajin, tapi kalau urusan uang selalu licik. Pikirannya agak lambat, tapi tangannya cepat saat kerja.
“A, ini bautnya dua ya tulisnya. Jangan salah,” katanya suatu siang.
Siang hari setelah istirahat, Agung mulai mengurus nota driver. Membuat pengajuan agar uang mereka bisa diganti. Lalu sore, memindahkan truk yang selesai diperbaiki ke parkiran. Kalau ada unit mau masuk bengkel, dia juga yang memanaskan dan memasukkan.
Lama-lama, ia tak lagi hanya P2H.
Ia jadi admin workshop.
Ia jadi inventory.
Ia jadi driver saat storing kalau ada unit mogok di jalan.
Jam kerja resmi 08.00–17.00.
Tapi untuk Agung, jam kerja seperti angka hiasan saja.
Malam hari, setelah semua orang tidur, ia buka laptop.
Input pengeluaran sparepart.
Kirim laporan ke grup mekanik.
Matanya perih, tapi jarinya tetap mengetik.
Jiman
Supervisor workshopnya bernama Jiman. Usia 40 tahun.
Kalau sedang baik, ia royal.
Tapi hanya pada orang-orang tertentu.
Kalau ada masalah?
Anak buah yang salah.
“Kenapa bisa telat laporannya?”
“Kenapa ini belum jadi?”
“Kenapa kamu tidak koordinasi?”
Semua selalu dimulai dengan kata kenapa dan berakhir dengan nada menyalahkan.
Agung tahu satu hal: Jiman adalah anak salah satu orang kepercayaan si Bos dan Istrinya bekerja di bagian finance.
Di kantor, kekuasaan tidak selalu soal jabatan. Kadang soal siapa yang dekat dengan siapa.
Dan Agung hanya pegawai lama yang pendiam.
Rekan-Rekan yang Berbeda Warna
Adit, 27 tahun. Pintar, ulet.
Aris, 37 tahun. Pemalas dan mudah marah.
Dede, 57 tahun. Senior, keras kepala, tak mau menerima masukan.
Andy baru masuk September 2022 sebagai inventory.
Usianya 46. Pemalas, sering dimarahi supervisor.
Andy masuk bukan karena sistem membaik.
Tapi karena Agung berhenti membuat laporan inventory selama tiga bulan.
Bukan karena malas.
Karena lelah.
Karena merasa dimanfaatkan.
Karena setiap tambahan tugas selalu dibungkus kata “tolong bantu dulu” lalu berubah jadi tanggung jawab permanen.
Saat Andy masuk, inventory resmi bukan lagi tanggung jawabnya.
Tapi anehnya, beban Agung tetap sama.
Titik Retak
Tahun 2023.
Suatu sore, setelah storing keluar kota, Agung baru sampai rumah pukul 21.30. Bajunya bau solar. Punggungnya pegal. Anak sudah tidur.
Laptop menyala lagi.
Di grup, Jiman menulis:
“Besok laporan sparepart lengkap ya. Jangan telat.”
Agung menatap layar lama.
Ia merasa seperti mesin.
Mesin yang tak pernah dapat servis.
Ngopi dengan Amin
Amin adalah sahabatnya. Usia 46.
Pintar bicara. Pintar dengar. Pintar teknologi.
Dan sayangnya, pintar juga berjudi online.
Mereka sering duduk di warung kopi kecil dekat rumah.
“Lu capek ya, Gung?” Amin bertanya pelan.
Agung hanya tertawa kecil.
“Capek sih biasa. Tapi sekarang rasanya kayak… nggak dihargai.”
“Lu mau resign?”
Pertanyaan itu menggantung.
“Takut, Min. Kebutuhan jalan terus. Kerjaan di luar belum tentu ada. Umur juga bukan 20-an lagi.”
Amin mengangguk.
“Kadang masalahnya bukan resign atau nggak. Tapi lu sadar nggak kalau lu udah berkembang jauh dari jobdesk awal? Lu bisa inventory, admin, driver, koordinasi mekanik. Itu skill.”
Agung terdiam.
Selama ini ia hanya merasa dimanfaatkan.
Tak pernah melihat bahwa ia sebenarnya bertumbuh.
Tahun 2024 – Pilihan
Suatu hari, Jiman kembali menyalahkan Agung di depan mekanik.
Padahal masalahnya dari Aris yang telat kerja.
Agung hanya diam.
Tapi malamnya, ia tidak membuka laptop.
Ia membuka situs lowongan kerja.
Tangannya gemetar.
Ia tidak langsung resign.
Ia tidak juga langsung melawan.
Ia mulai memperbaiki CV.
Ia mulai belajar hal baru dari internet.
Ia mulai menyisihkan waktu untuk berpikir tentang masa depan, bukan hanya laporan.
Dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun, ia menyadari sesuatu:
Masalahnya bukan hanya pada Jiman.
Masalahnya karena ia terlalu lama diam.
Ending
Agung tidak langsung keluar dari pekerjaan itu.
Ia tetap datang pukul 07.45 seperti biasa.
Tetap cek unit.
Tetap lapor ke Dadang.
Tetap membantu mekanik.
Tapi ada yang berubah.
Ia tidak lagi lembur tanpa batas.
Ia tidak lagi menerima semua tambahan tugas tanpa negosiasi.
Ia mulai berkata pelan,
“Pak, itu bukan jobdesk saya. Kalau mau saya kerjakan, berarti ada penyesuaian tanggung jawab.”
Jiman tidak suka.
Tapi juga tidak bisa berbuat banyak.
Karena ternyata selama ini, workshop berjalan stabil bukan karena supervisor yang dekat CEO.
Tapi karena ada orang pendiam yang menjaga sistem tetap hidup.
Dan di suatu malam, di warung kopi kecil itu, Amin tersenyum.
“Lu nggak resign?”
Agung menggeleng.
“Belum. Tapi sekarang gue kerja bukan buat mereka. Gue kerja buat diri gue sendiri dan keluarga.”
Dan untuk pertama kalinya, jam kerja terasa punya batas.
Tamat.
Komentar
Posting Komentar