Jam Kerja Tanpa Batas (Eps 9)
Berani Mengatakan "Berat"
Episode 9
Senin pagi itu terasa berbeda.
Bukan karena pekerjaan berkurang.
Bukan karena laporan sudah rapi.
Tapi karena Agung sudah memutuskan sesuatu sejak malam sebelumnya.
Ia akan bicara.
Bukan untuk mengeluh.
Bukan untuk menyalahkan.
Hanya untuk meluruskan.
Pagi itu ia menyusun daftar.
Tugas harian.
Tugas mingguan.
Tugas tambahan.
Ia menulis semuanya.
P2H unit.
Admin laporan.
Inventory stok.
Rekap driver.
Input overtime.
Koordinasi supplier.
Ia melihat daftar itu lama.
Dan baru sadar satu hal:
Ini bukan satu jabatan.
Ini tiga.
Menjelang siang, ia mengetuk pintu ruangan Dadang.
“Pak, boleh ngobrol sebentar?”
Dadang mengangguk.
“Ada apa, Gung?”
Agung duduk pelan.
Tangannya menggenggam buku catatan kecil.
Ia tidak ingin emosional.
Ia ingin jelas.
“Pak, saya mau jelasin pembagian kerja saya sekarang.”
Dadang memperhatikan.
Agung membuka catatan.
Ia menjelaskan satu per satu.
Tidak dilebihkan.
Tidak dikurangi.
Nada suaranya tenang.
Tapi jujur.
“Awalnya saya bantu admin dan inventory. Tapi sekarang full di saya. Kalau ada salah laporan atau stok, semua ke saya. Sementara saya tetap pegang P2H dan bantu operasional.”
Dadang terdiam.
Agung melanjutkan,
“Beberapa minggu ini mulai banyak miss, Pak. Saya bukan cari alasan. Tapi saya merasa beban saya sudah terlalu penuh.”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Beban saya terlalu penuh.
Dadang menyandarkan badan.
“Kenapa baru sekarang ngomong?”
Agung tersenyum kecil.
“Saya kira saya masih sanggup.”
Sunyi sebentar.
Lalu Dadang berkata pelan,
“Kamu memang pekerja keras. Tapi kerja keras bukan berarti harus sendirian.”
Kalimat itu terasa berbeda dari teguran sebelumnya.
Kali ini bukan soal kesalahan.
Tapi soal beban.
Kalimat Dadang masih terngiang di kepala Agung.
“Kerja keras bukan berarti harus sendirian.”
Tapi setelah itu…
Tidak ada keputusan.
Tidak ada pembagian tertulis.
Tidak ada perubahan sistem.
Hanya anggukan.
Hanya pengertian.
Dan hari tetap berjalan seperti biasa.
Siang itu, setelah keluar dari ruangan, Agung kembali ke mejanya.
File inventory masih menunggu.
Rekap overtime belum selesai.
Supplier menagih konfirmasi.
Tidak ada tugas yang berpindah.
Tidak ada yang berkurang.
Seolah-olah percakapan tadi hanya angin lewat.
Beberapa hari berikutnya, Dadang memang terlihat lebih memperhatikan.
Sesekali bertanya,
“Masih aman, Gung?”
Agung menjawab singkat,
“Aman, Pak.”
Karena memang tidak ada yang berubah untuk dijawab tidak aman.
Dan ia mulai sadar satu hal:
Kadang atasan mendengar…
tapi tidak selalu bertindak.
Di satu sisi, Dadang juga terlihat ragu.
Ia tahu Agung kewalahan.
Ia tahu laporan mulai bermasalah.
Tapi ia juga tahu, jika membagi tugas berarti harus menambah orang atau mengurangi target.
Dan itu bukan keputusan kecil.
Agung bisa melihat keraguan itu.
Dan justru itu yang membuatnya makin gelisah.
Karena sekarang ia tahu masalahnya terlihat.
Tapi tetap belum selesai.
Satu sore, laporan bulanan kembali dikoreksi dari pusat.
Beberapa angka inventory tidak sinkron.
Dadang memanggilnya lagi.
Nada suaranya lebih berat kali ini.
“Gung, ini harus diberesin. Kita lagi disorot.”
Agung mengangguk.
Di dalam kepalanya hanya ada satu kalimat:
“Kita lagi disorot… tapi tetap gue sendiri yang pegang.”
Ia tidak marah.
Ia hanya merasa sendirian lagi.
Malam itu ia lembur lagi.
Kantor kecil itu terasa lebih sempit dari biasanya.
Ia menatap daftar tugas yang pernah ia tunjukkan ke Dadang.
Masih sama.
Tidak ada yang dicoret.
Tidak ada yang berpindah tangan.
Ia menarik napas panjang.
Berarti keputusan sekarang bukan lagi soal berani bicara.
Tapi berani menentukan sikap.
Apakah ia akan terus menunggu solusi datang?
Atau mulai mengatur ulang caranya bekerja?
Beberapa hari kemudian, sebuah kejadian kecil membuatnya berpikir.
Seorang mekanik baru bertanya polos,
“Mas, ini sebenarnya admin kita berapa orang?”
Agung tersenyum tipis.
“Satu.”
“Sendiri, Mas?”
Agung hanya mengangguk.
Mekanik itu terlihat kaget.
Dan untuk pertama kalinya, Agung melihat situasinya dari sudut pandang orang lain.
Memang tidak masuk akal.
Dadang akhirnya memanggil meeting kecil.
Bukan untuk memarahi.
Tapi untuk evaluasi.
Ia berkata di depan tim,
“Kita perlu rapikan alur kerja. Banyak yang menumpuk di satu titik.”
Semua orang tahu titik itu siapa.
Agung tidak menunduk kali ini.
Ia hanya duduk tenang.
Karena setidaknya, sekarang masalahnya diakui di ruang terbuka.
Walau solusi detailnya belum jelas.
Meeting berakhir tanpa pembagian resmi.
Tapi satu hal berubah.
Dadang mulai terlibat lebih langsung di laporan.
Bukan mengambil alih.
Tapi mengawasi lebih dekat.
Dan itu membuat Agung sedikit lebih tenang.
Sedikit saja.
Ia mulai sadar bahwa perubahan di tempat kerja tidak selalu cepat.
Tidak selalu dramatis.
Kadang hanya bergerak satu sentimeter.
Tapi satu sentimeter lebih baik daripada diam.
Dan sekarang ia berada di titik itu:
Belum lega.
Belum selesai.
Tapi tidak lagi sepenuhnya diam.
Quote :
“Didengar belum tentu langsung diselesaikan.
Tapi suara yang berani keluar tidak akan pernah benar-benar sia-sia.”
Ide Cerita : emy_haw
Penulis : ChatGPT
Komentar
Posting Komentar