Jam Kerja Tanpa Batas (Eps 8)
Cerita Tanpa Keluhan
Episode 8
Sabtu malam itu bengkel tutup lebih cepat.
Agung tidak langsung pulang.
Ia menghubungi satu nama yang sudah lama tidak ia ajak bertemu.
Amin.
Sahabat lamanya sejak masih sama-sama belajar jadi mekanik.
Orang yang mengenal Agung sebelum semua jabatan tambahan itu ada.
Mereka bertemu di warung kopi sederhana dekat jalan besar.
Bukan tempat mewah.
Tapi cukup hangat.
Amin datang dengan senyum khasnya.
“Wah, admin bengkel sekarang susah ditemuin.”
Agung tersenyum kecil.
“Admin, inventory, driver cadangan, tukang P2H… lengkap.”
Amin tertawa.
“Tuh kan, udah naik jabatan banyak.”
Agung ikut tertawa.
Tapi kali ini tawanya pelan.
Awalnya mereka bercerita hal biasa.
Tentang motor lama.
Tentang kenangan lembur pertama kali.
Tentang masa-masa saat gaji belum seberapa tapi semangat masih penuh.
Lalu Amin bertanya santai,
“Sekarang gimana di bengkel?”
Agung terdiam sebentar.
Bukan karena tak mau jawab.
Tapi karena sedang memilih kata.
“Aman.”
Jawaban standar.
Amin menatapnya.
“Aman atau capek?”
Agung tersenyum tipis.
Ia tidak ingin terdengar mengeluh.
Ia hanya ingin bercerita.
“Gue sekarang pegang admin sama inventory full. Awalnya bantu. Lama-lama jadi tanggung jawab. Kalau ada miss ya ke gue.”
Amin mengangguk.
“Orang lain?”
“Ya tetap kerja… tapi kalau soal angka, laporan, stok… ke gue semua.”
“Dan lo oke?”
Agung menatap gelas kopinya.
Ia memutar sendok perlahan.
“Gue pikir gue oke.”
Kalimat itu jujur.
Karena memang dulu ia yakin sanggup.
Ia mulai bercerita lebih jauh.
Tentang laporan yang revisi.
Tentang lembur yang makin aneh hitungannya.
Tentang Wahid yang mulai bermain halus soal jam kerja.
Tentang rasa lupa yang makin sering datang.
Bukan dengan nada marah.
Bukan dengan nada menyalahkan.
Hanya seperti seseorang yang sedang menyusun ulang isi kepalanya lewat kata-kata.
Amin mendengar.
Tidak memotong.
Tidak memberi solusi cepat.
“Lo pernah ngerasa nggak sih… kayak kerja keras banget tapi kok makin nggak yakin sama diri sendiri?”
Pertanyaan itu keluar pelan.
Amin menjawab tanpa berpikir lama.
“Pernah. Waktu gue hampir resign dulu.”
Agung menatapnya.
“Kok nggak jadi?”
Amin tersenyum.
“Karena ternyata bukan gue yang nggak mampu. Cuma beban gue waktu itu nggak masuk akal.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi seperti ada sesuatu yang menggeser sedikit beban di dada Agung.
“Lo tau nggak, Min… gue bukan takut capek. Gue cuma takut ternyata batas kemampuan gue segini aja.”
Amin tertawa kecil.
“Kalau batas lo segitu, dari dulu lo nggak bakal sampe sini.”
Sunyi sebentar.
Lalu Amin melanjutkan,
“Kadang yang bikin kita kelihatan nggak mampu itu bukan karena kita lemah. Tapi karena kita nggak pernah bilang kalau kita lagi berat.”
Agung diam.
Kalimat itu menancap.
Malam makin larut.
Angin jalanan terasa lebih dingin.
Sebelum pulang, Amin menepuk bahu Agung.
“Lo nggak pernah ngeluh malam ini. Lo cuma cerita. Dan itu beda.”
Agung mengangguk pelan.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu…
Ia merasa sedikit lebih ringan.
Masalahnya belum selesai.
Tekanannya belum hilang.
Wahid masih bermain angka.
Laporan masih menunggu.
Tapi malam itu, ia sadar satu hal:
Ia tidak sendirian.
Di perjalanan pulang, ia mengendarai motor lebih pelan.
Bukan karena lelah.
Tapi karena pikirannya mulai tenang.
Ia belum punya solusi.
Tapi ia punya satu keberanian kecil:
Untuk jujur pada dirinya sendiri bahwa ia sedang berat.
Dan itu adalah awal.
Quote :
“Bercerita bukan berarti mengeluh.
Kadang itu hanya cara hati mencari ruang untuk bernapas.”
Ide Cerita : emy_haw
Penulis : ChatGPT
Komentar
Posting Komentar