Jam Kerja Tanpa Batas (Eps 7)
Kesalahan yang Tidak Terlihat
Episode 7
Tekanan tidak selalu datang dalam bentuk teriakan.
Kadang ia datang dalam bentuk hal-hal kecil yang terlewat.
Dan Agung mulai kehilangan banyak hal kecil itu.
Pagi itu ia datang lebih awal dari biasanya.
Bukan karena semangat.
Tapi karena takut.
Takut ada yang salah lagi.
Ia membuka laptop sebelum mesin bengkel menyala.
Mengecek ulang laporan.
Memastikan angka sama.
Memastikan stok sesuai.
Memastikan semuanya aman.
Tapi justru di situ masalahnya.
Semakin ia takut salah, semakin ia tegang.
Dan semakin tegang… semakin banyak yang terlewat.
Hari itu Adit datang dengan wajah bingung.
“Mas, kampas rem yang kemarin dipesan kok nggak ada ya di sistem?”
Agung terdiam.
Ia ingat pernah mencatatnya.
Atau mungkin belum?
Ia membuka file inventory.
Mencari-cari.
Tidak ada.
Padahal barangnya sudah datang.
Itu berarti stok fisik dan sistem tidak sama.
Hal kecil.
Tapi cukup untuk membuat rantai masalah.
Siangnya, driver mengeluh.
“Mas, nota solar minggu lalu belum direkap ya? Admin pusat nanyain.”
Agung membuka email.
Belum dikirim.
Padahal ia ingat pernah berniat mengirimnya malam itu.
Tapi malam itu ia terlalu lelah.
Dan lupa.
Sore menjelang.
Wahid berdiri di dekat meja admin.
“Laporan overtime kemarin ada yang kurang. Ada jam yang belum masuk.”
Agung menghela napas pelan.
Ia tahu maksudnya.
Jika ada jam yang belum masuk, artinya ada perhitungan yang salah.
Dan itu bisa jadi bumerang.
Entah untuk siapa.
Semakin hari, kesalahan-kesalahan kecil itu menumpuk.
Salah input tanggal.
Salah kirim file versi lama.
Lupa tanda tangan dokumen.
Tertukar nama supplier.
Tidak fatal.
Tapi cukup untuk membuat namanya sering disebut.
“Agung tolong dicek lagi ya.”
“Agung ini salah.”
“Agung itu belum.”
Namanya terdengar lebih sering.
Bukan karena prestasi.
Tapi karena kekeliruan.
Yang paling menyakitkan bukan teguran.
Tapi tatapan.
Tatapan mekanik yang dulu percaya padanya.
Tatapan yang sekarang mulai bertanya-tanya.
“Mas Agung kenapa sih akhir-akhir ini?”
Agung mendengarnya sekali.
Tidak langsung di depan wajahnya.
Tapi cukup jelas.
Dan kalimat itu tinggal lama di kepalanya.
Ia mulai menulis catatan kecil.
Tempel di meja.
Tempel di monitor.
Tempel di buku.
Checklist.
Reminder.
Alarm di HP.
Tapi tetap saja ada yang lolos.
Karena masalahnya bukan sistem pengingat.
Masalahnya adalah pikirannya yang sudah terlalu penuh.
Suatu malam, ia kembali lembur sendirian.
Lampu bengkel sudah mati.
Hanya lampu kantor kecil yang menyala.
Ia membuka file laporan harian.
Tiba-tiba ia menyadari satu hal:
Ia membaca angka yang sama tiga kali… dan tetap tidak masuk ke otaknya.
Ia lelah.
Bukan fisik saja.
Tapi mental.
Dan saat mental lelah, otak mulai menolak bekerja.
Keesokan harinya, Jiman memanggil.
“Agung, laporan bulan lalu ada beberapa revisi lagi. Kenapa banyak miss?”
Nada suaranya tidak marah.
Tapi kecewa.
Dan itu jauh lebih berat.
Agung hanya bisa menjawab pelan,
“Maaf, Pak.”
Kata yang mulai terlalu sering ia ucapkan.
Ia berjalan keluar ruangan dengan langkah berat.
Di parkiran, ia berhenti sebentar.
Menatap motor tuanya.
Helm tergantung.
Ia menunduk.
Untuk pertama kalinya ia sadar:
Bukan pekerjaannya yang terlalu sulit.
Tapi ia sedang mengerjakan pekerjaan tiga orang dengan pikiran satu orang.
Dan pikiran itu mulai retak.
Malam itu di rumah, istrinya berkata pelan,
“Kamu akhir-akhir ini sering melamun.”
Agung tersenyum kecil.
“Iya ya?”
Padahal ia tahu.
Ia bukan melamun.
Ia sedang tenggelam.
Kesalahan-kesalahan kecil itu bukan sekadar administrasi yang terlambat.
Itu adalah tanda bahwa tubuh dan pikirannya sedang meminta berhenti.
Tapi ia terlalu takut untuk berhenti.
Karena ia merasa jika ia berhenti… semuanya runtuh.
Padahal mungkin justru karena ia tidak berhenti… semuanya mulai runtuh.
Quote :
“Ketika pikiran terlalu penuh, hal kecil pun bisa jadi kesalahan besar.”
Ide Cerita : emy_haw
Penulis : ChatGPT
Komentar
Posting Komentar