Jam Kerja Tanpa Batas (Eps 6)
Suara yang Tidak Terdengar
Episode 6
Beberapa hari setelah laporan besar itu bermasalah, suasana bengkel kembali normal.
Atau setidaknya terlihat normal.
Mesin tetap menyala.
Orang tetap bekerja.
Candaan kecil tetap terdengar.
Hanya satu yang berbeda.
Agung mulai bekerja tanpa rasa.
Pagi itu ia berdiri di depan unit, memeriksa rem seperti biasa.
Tapi pikirannya tidak di situ.
Ia sedang mengulang-ulang kejadian beberapa hari lalu.
Nada suara Jiman.
Tatapan mekanik lain.
Kalimat “tanggung jawab kamu”.
Ia mulai bertanya dalam hati:
“Memang gue sanggup semua ini?”
Pertanyaan yang dulu tidak pernah muncul.
Siang hari, nota driver kembali menumpuk.
Adit datang bertanya soal stok.
Wahid menyodorkan catatan.
Aris mengeluh.
Semua terdengar seperti suara yang saling tumpang tindih.
Agung mencoba fokus.
Tapi otaknya seperti berat.
Ia mulai melakukan kesalahan kecil.
Salah input angka.
Salah simpan file.
Lupa mengirim satu laporan.
Hal-hal kecil.
Tapi cukup untuk membuatnya makin merasa tidak mampu.
Sore itu Dadang memanggilnya.
“Kamu kenapa belakangan ini kelihatan nggak fokus?”
Agung terdiam.
Ia ingin jujur.
Ia ingin bilang bahwa ia lelah.
Tapi yang keluar hanya:
“Nggak apa-apa, Pak.”
Dadang menatap sebentar.
“Kalau capek, bilang. Jangan dipendam.”
Kalimat itu seharusnya menguatkan.
Tapi entah kenapa, Agung malah merasa semakin kecil.
Karena ia tidak tahu harus mulai dari mana untuk menjelaskan.
Malam itu di rumah, laptop menyala seperti biasa.
Tapi kali ini ia tidak langsung mengetik.
Ia hanya duduk.
Menatap layar kosong.
Tiba-tiba muncul pikiran yang selama ini ia tahan:
“Kalau gue berhenti aja gimana?”
Bukan berhenti kerja selamanya.
Tapi berhenti dari semuanya.
Berhenti dari tekanan.
Berhenti dari angka-angka.
Berhenti dari rasa dikejar.
Ia membayangkan satu hari tanpa bengkel.
Tanpa grup mekanik.
Tanpa suara notifikasi.
Dan untuk pertama kalinya sejak 2018…
Ia ingin menyerah.
Ia menutup laptop.
Bukan karena pekerjaan selesai.
Tapi karena ia tidak sanggup melihatnya lagi malam itu.
Istrinya yang melihat dari pintu kamar bertanya pelan,
“Besok nggak dikerjain?”
Agung menjawab pelan,
“Capek.”
Satu kata yang jarang ia ucapkan dengan jujur.
Beberapa hari berikutnya, rasa itu tidak hilang.
Ia mulai meragukan dirinya sendiri.
“Mungkin gue memang nggak cukup pintar.”
“Mungkin gue terlalu lambat.”
“Mungkin gue nggak cocok pegang admin dan inventory.”
“Mungkin gue cuma cocok di lapangan.”
Semakin ia berpikir, semakin kecil ia merasa.
Padahal yang berubah bukan kemampuannya.
Yang berubah adalah beban yang melebihi kapasitas satu orang.
Suatu sore, saat sendirian di belakang bengkel, Agung duduk lama.
Ia melihat tangannya sendiri.
Tangan yang dulu ia banggakan karena kuat bekerja.
Sekarang terasa berat bahkan untuk membuka file laporan.
Ia menarik napas panjang.
“Kalau gue pergi… ada yang peduli nggak?”
Pertanyaan itu bukan tentang pekerjaan.
Itu tentang nilai dirinya.
Dan itulah yang paling menyakitkan.
Malamnya ia tidak membuka laptop lagi.
Ia hanya duduk di ruang tamu dalam gelap.
Suara jam dinding terdengar jelas.
Ia sadar satu hal:
Ia tidak lagi takut pada pekerjaan.
Ia takut pada dirinya sendiri.
Takut bahwa semua ini memang batas kemampuannya.
Dan jika benar begitu…
apa yang tersisa darinya?
Quote :
“Kadang yang paling melelahkan bukan pekerjaan,
tapi pikiran yang mulai meragukan diri sendiri.”
Ide Cerita : emy_haw
Penulis : ChatGPT
Komentar
Posting Komentar