Jam Kerja Tanpa Batas (Eps 5)

 

Ketika Semua Datang Bersamaan

Episode 5

Pagi itu belum jam sembilan, tapi kepala Agung sudah terasa berat.

Satu unit belum selesai dicek, Wahid sudah menunggu tanda tangan.
Adit minta konfirmasi stok.
Aris mengeluh sparepart belum dicatat.
Dan di meja admin, nota driver menumpuk seperti utang yang tidak pernah lunas.

Dulu semua ini terpisah.

Sekarang semuanya menyatu di satu nama: Agung.

“Gung, laporan minggu ini mana?” suara Jiman terdengar dari belakang.

Agung menoleh cepat.

“Masih saya rapikan, Pak.”

“Kenapa belum selesai? Kan kamu yang pegang.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi di kepala Agung terdengar seperti beban.

Kan kamu yang pegang.

Sejak kapan semuanya jadi tanggung jawabnya penuh?

Ia ingin menjelaskan bahwa pagi sampai sore ia di lapangan.

Ia ingin bilang bahwa inventory dikerjakan malam hari.

Tapi seperti biasa, yang keluar hanya:

“Iya, Pak. Segera.”

Siang itu laporan inventory menunjukkan selisih kecil.

Tidak besar.

Tapi cukup untuk membuat Jiman menaikkan nada.

“Ini kenapa bisa beda?”

Agung membuka catatan.

Beberapa pengeluaran sparepart belum tercatat rapi.
Ada yang lupa mengirim detail.
Ada yang tulisannya tidak jelas.

Dan ia yang harus menyusun ulang semuanya.

Wahid berdiri di dekat meja.

“Gue udah kasih datanya kok.”

Tapi Agung tahu, tidak semuanya lengkap.

Ia tidak ingin menunjuk siapa pun.

Ia hanya ingin laporan beres.

Hari-hari berikutnya seperti berlomba.

Pagi: P2H.
Siang: admin bengkel.
Sore: pindah unit.
Malam: inventory.

Tubuhnya mulai protes.

Pergelangan tangan sering terasa nyeri saat mengetik.
Mata terasa panas sebelum jam 10 malam.

Tapi yang paling berat bukan fisik.

Yang paling berat adalah rasa dikejar terus-menerus.

Suatu sore, laporan driver terlambat dikirim.

Salah satu driver komplain karena uang penggantian belum cair.

Finance menanyakan ke Jiman.

Jiman menanyakan ke Agung.

“Ini kenapa telat?”

Agung menjelaskan pelan bahwa siang tadi ia harus storing keluar kota.

Jiman tidak tertarik pada alasan.

“Saya nggak mau tahu. Itu tanggung jawab kamu.”

Kalimat itu seperti palu kecil yang diketukkan berulang-ulang.

Tanggung jawab kamu.
Tanggung jawab kamu.

Padahal jam kerjanya sudah tidak jelas.

Malam itu Agung sampai rumah hampir jam sembilan.

Laptop menyala lagi.

Spreadsheet terbuka.

Angka-angka terlihat kabur.

Ia mengusap wajahnya.

Ada momen singkat di mana ia hanya menatap layar tanpa mengetik apa-apa.

Seperti otaknya berhenti sebentar.

Ia mencoba mengingat:

Kapan terakhir kali ia pulang jam lima tepat waktu?

Kapan terakhir kali ia makan malam tanpa membuka laptop?

Ia tidak ingat.

Beberapa hari kemudian, semuanya seperti runtuh bersamaan.

Laporan inventory belum rapi.
Nota driver menumpuk.
Unit yang harus dicek bertambah karena jadwal padat.

Dan hari itu, selisih stok lebih besar dari biasanya.

Jiman marah.

“Ini tidak bisa begini terus!”

Semua mata mengarah ke Agung.

Dadang diam.

Wahid diam.

Agung berdiri dengan perasaan campur aduk.

Ia ingin berteriak bahwa ia tidak sendirian memegang ini.

Ia ingin berkata bahwa pekerjaannya sudah melebihi satu orang.

Tapi lagi-lagi, yang keluar hanya:

“Maaf, Pak. Saya bereskan.”

Sore itu, untuk pertama kalinya, tangan Agung gemetar saat mengetik.

Bukan karena takut dimarahi.

Tapi karena ia mulai merasa…

Ia tidak sanggup lagi memegang semuanya sendiri.

Di sudut bengkel, lampu menyala seperti biasa.

Suara mesin tetap terdengar.

Dunia kerja tidak pernah berhenti hanya karena satu orang kewalahan.

Dan itu yang membuatnya makin sunyi.

Malamnya, di rumah, istrinya berkata pelan:

“Kamu kelihatan capek banget.”

Agung hanya mengangguk.

Untuk pertama kalinya, ia tidak punya tenaga untuk berpura-pura kuat.

Ia menyadari satu hal pahit:

Ia bukan lagi bekerja untuk berkembang.

Ia bekerja hanya untuk mengejar agar semuanya tidak runtuh.

Dan mengejar tanpa pernah sampai… sangat melelahkan.

Di depan layar laptop, ia bergumam pelan:

“Ini kerja… atau pelan-pelan menghabiskan diri?”

Pertanyaan itu tidak langsung dijawab.

Tapi sejak hari itu, rasa bangga berubah jadi beban.

Dan beban itu mulai terasa lebih berat dari sekadar tugas.

Quote :

“Ketika semua tanggung jawab datang bersamaan,
bukan hanya tenaga yang terkuras—harga diri pun bisa ikut terkikis.”


Ide Cerita : emy_haw

Penulis : ChatGPT

 

Komentar

Postingan Populer