Jam Kerja Tanpa Batas (Eps 4)
Angka yang Tidak Pernah Sama
Episode 4
Pagi itu sebenarnya biasa saja.
Agung sudah menyelesaikan P2H setengah unit ketika Wahid datang membawa form.
“Gung, ini lembur minggu kemarin masuk semua kan?”
Agung melihat sekilas.
Jam selesai tertulis 19.30.
Ia mengernyit.
“Bukannya hari itu kamu sempat pulang sebentar?”
Wahid tersenyum tipis.
“Ya balik lagi kan. Tetap dihitung dong.”
Nada suaranya santai.
Tapi ada sesuatu yang terasa… tidak lurus.
Agung bukan tipe orang yang suka mempermasalahkan.
Tapi sekarang dia yang pegang admin dan inventory.
Kalau angka tidak cocok, yang ditanya pertama kali adalah dirinya.
“Gue sesuaikan ya sama catatan bengkel,” jawab Agung pelan.
Wahid menghela napas sedikit lebih keras dari biasanya.
Beberapa hari kemudian, Dadang mulai memperhatikan.
“Kok lembur makin banyak tapi kerjaan nggak kelihatan selesai cepat?” tanyanya di ruang bengkel.
Semua diam.
Wahid pura-pura sibuk membuka toolbox.
Dadang bukan orang yang mudah dibohongi.
“Kalau lembur ya lembur. Tapi kerja juga harus kelihatan.”
Nada suaranya tidak tinggi, tapi tajam.
Wahid kena teguran pertama hari itu.
Siangnya, Wahid mendekat ke meja Agung.
“Lu terlalu detail, Gung.”
Agung mengangkat wajahnya.
“Maksudnya?”
“Ya nggak usah semuanya dicocokin banget. Kita kan sama-sama kerja.”
Kalimat itu seperti sindiran halus.
Agung tahu maksudnya.
Tapi untuk pertama kalinya, dia tidak langsung mengalah.
“Kalau nggak cocok nanti gue yang ditanya.”
Wahid tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum.
“Ya sudah, terserah lu.”
Sejak saat itu, suasana di antara mereka berubah.
Masalahnya bukan cuma lembur.
Wahid mulai sering lambat menyerahkan catatan sparepart.
Kadang angka yang ditulis berbeda dengan barang yang keluar.
Agung harus mengecek ulang satu per satu.
Waktu yang sudah sempit jadi makin sempit.
Sore hari, saat laporan inventory diminta Jiman, ada selisih kecil.
Jiman langsung menatap Agung.
“Ini kenapa beda?”
Agung menjelaskan pelan,
“Ada catatan yang belum masuk lengkap, Pak.”
Wahid berdiri tidak jauh dari situ.
Diam.
Tidak membela.
Tidak mengakui.
Dan lagi-lagi, posisi Agung seperti di tengah.
Beberapa hari kemudian, Dadang memanggil Wahid secara langsung.
Agung mendengar suaranya dari kejauhan.
“Kalau kerja ya yang benar! Jangan main angka!”
Wahid keluar ruangan dengan wajah tegang.
Sejak itu, hubungan mereka tidak lagi ringan.
Wahid masih bekerja rajin.
Masih cekatan.
Tapi sekarang setiap berbicara dengan Agung ada jarak tipis.
Seperti ada garis tak terlihat.
Malam itu, Agung pulang hampir jam delapan.
Ia duduk di ruang tamu, belum mandi.
Kepalanya penuh angka.
Ia tidak pernah ingin jadi musuh siapa pun.
Ia hanya ingin sistem rapi.
Tapi ternyata, ketika seseorang mulai tegas…
ada saja yang merasa dirugikan.
Istrinya keluar membawa teh hangat.
“Kenapa bengong?”
Agung tersenyum kecil.
“Nggak apa-apa.”
Padahal di dalam hatinya ada pertanyaan baru:
“Kalau gue jujur, kenapa rasanya jadi sendirian?”
Di kantor, posisi Agung makin jelas.
Ia bukan lagi sekadar P2H.
Bukan sekadar admin.
Ia mulai jadi penyeimbang.
Tapi penyeimbang sering kali berdiri di tengah arus yang saling tarik.
Dan berdiri di tengah… melelahkan.
Malam itu, sebelum tidur, Agung membuka laptop lagi.
Laporan selesai.
Angka cocok.
Semua rapi.
Tapi hatinya tidak ikut rapi.
Ia mulai sadar:
Bekerja keras itu satu hal.
Menjaga integritas di tengah orang-orang yang bermain angka… itu hal lain.
Dan tidak semua orang suka kalau angka dibuat jujur.
Quote :
“Ketika kamu mulai berdiri di antara yang benar dan yang nyaman,
bersiaplah untuk kehilangan rasa aman.”
Ide Cerita : emy_haw
Penulis : ChatGPT
Komentar
Posting Komentar