Jam Kerja Tanpa Batas (Eps 3)
Dari Membantu Menjadi Bertanggung Jawab
Episode 3
Awalnya cuma kalimat sederhana.
“Gung, bantu pegang laporan bengkel dulu ya. Admin lagi banyak kerjaan.”
Agung mengangguk.
“Siap.”
Hari itu ia mulai duduk lebih lama di meja kecil dekat gudang sparepart.
Kertas-kertas nota driver menumpuk.
Form pengajuan perbaikan berserakan.
Ia pikir hanya sementara.
Seminggu.
Dua minggu.
Sebulan.
Tidak pernah ada kalimat, “Terima kasih sudah bantu.”
Tidak pernah ada kalimat, “Sudah cukup, sekarang kembali fokus P2H.”
Yang ada hanya tambahan baru.
“Gung, inventory juga kamu pegang dulu ya. Biar rapi.”
Awalnya ia hanya mencatat pengeluaran sparepart dari mekanik.
Lama-lama ia yang mengatur stok.
Ia yang menghitung sisa.
Ia yang cari histori pemakaian.
Ia yang diminta jelaskan kalau ada selisih.
Siang hari hampir tidak ada waktu duduk tenang.
Pagi P2H.
Siang admin.
Sore pindah unit.
Malam input inventory.
Tanpa pernah ada surat resmi.
Tanpa perubahan jabatan.
Hanya perubahan beban.
Wahid mulai sering datang dengan nada berbeda.
“Gung, ini lembur kemarin masuk kan? Soalnya gue sampai jam tujuh.”
Agung mengecek catatan.
Kadang jam lembur Wahid lebih rapi dari laporan pekerjaannya.
“Yang kemarin kan kamu sempat istirahat lama,” Agung bilang pelan.
Wahid tersenyum tipis.
“Ya namanya juga kerja. Kita bantu-bantu lah.”
Agung mengerti maksudnya.
Semua ingin dihitung.
Semua ingin jelas.
Kecuali dirinya sendiri.
Ia tidak pernah menghitung jamnya.
Suatu sore, Jiman memanggilnya.
“Inventory berantakan. Ini harus kamu rapikan.”
Agung terdiam.
“Pak… itu kan awalnya saya cuma bantu.”
Jiman menatap datar.
“Sekarang kamu yang pegang.”
Kalimatnya pendek.
Tegas.
Tanpa ruang diskusi.
Di situlah Agung sadar.
Kata “bantu” sudah berubah jadi “tanggung jawab”.
Dan tanggung jawab tidak bisa dilepas begitu saja.
Mulai saat itu, setiap ada selisih stok, namanya disebut.
Setiap ada nota belum masuk, dia yang dicari.
Setiap ada sparepart hilang, dia yang diminta jelaskan.
Padahal pagi harinya ia masih berdiri di bawah truk, memeriksa rem dan oli.
Ia seperti punya dua tubuh.
Satu di lapangan.
Satu di meja admin.
Dan keduanya sama-sama lelah.
Malam hari semakin panjang.
Laptop menyala hampir setiap malam.
Kadang sampai jam 12.
Mata perih.
Kepala berat.
Di grup mekanik, pesan tetap masuk.
“Gung, ini belum masuk.”
“Gung, stok tinggal berapa?”
“Gung, besok pesen yang ini ya.”
Tidak ada yang tahu kalau ia juga masih harus bangun pagi.
Suatu malam, saat layar laptop menyala di ruangan gelap, Agung menatap pantulan wajahnya sendiri.
Ia terlihat lebih tua dari usianya.
Ia mulai berpikir:
“Kalau semua ini tanggung jawabku… kenapa statusku tetap sama?”
Ia tidak menuntut jabatan tinggi.
Ia hanya ingin kejelasan.
Tapi setiap kali ingin bicara, ada suara di dalam dirinya yang menahan:
“Jangan ribut. Nanti dibilang tidak loyal.”
Dan ia kembali memilih diam.
Di kantor, orang-orang mulai terbiasa dengan kondisi itu.
Kalau ada yang perlu dirapikan, panggil Agung.
Kalau ada yang perlu dibereskan, panggil Agung.
Kalau ada yang harus dijelaskan ke atasan, panggil Agung.
Perlahan-lahan, ia bukan lagi P2H.
Ia menjadi sistem yang tidak terlihat.
Dan sistem jarang dipuji.
Sistem hanya dicari saat bermasalah.
Sore itu, saat memindahkan unit terakhir ke parkiran, langit sudah gelap.
Agung duduk sebentar di tangga bengkel.
Tangannya penuh debu.
Kepalanya penuh angka.
Ia menarik napas panjang.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa…
Ia tidak lagi membantu.
Ia sedang menggantikan.
Tapi tanpa pernah benar-benar diangkat.
Quote :
“Banyak orang tidak naik jabatan karena promosi.
Mereka naik beban karena terlalu sering berkata ‘siap’.”
Ide Cerita : emy_haw
Penulis : ChatGPT
Komentar
Posting Komentar