Jam Kerja Tanpa Batas (Eps 2)

 

Lampu Bengkel yang Lebih Lama Menyala

Episode 2

Awalnya cuma lima belas menit lewat.

Jam 17.15.

“Gung, bantu bentar ya. Unit ini besok harus jalan.”

Agung melihat jam sebentar. Lalu melihat unit. Lalu melihat Dadang.

“Siap, Pak.”

Itu lembur pertamanya.

Tidak ada form.
Tidak ada tanda tangan.
Tidak ada pembicaraan soal upah.

Hanya kalimat sederhana: bantu bentar.

Hari berikutnya jadi setengah jam.

Besoknya lagi satu jam.

Lama-lama, Agung berhenti melihat jam.

Yang lain mulai terbiasa.

Wahid kalau lewat jam lima selalu bertanya dulu,
“Ini lembur dihitung ya?”

Kalau tidak dihitung, dia bisa mendadak ada urusan.

Agung tidak pernah bertanya.

Bukan karena tidak butuh uang.

Tapi karena ia takut terlihat perhitungan.

Ia ingin dikenal sebagai orang yang tulus bekerja.

Tanpa sadar, itu jadi celah.

Tugasnya juga mulai bertambah tanpa pernah diumumkan resmi.

Pagi tetap P2H.

Siang bantu input laporan bengkel.

Terima sparepart dari Wahid dan Adit.

Aris kadang melempar pekerjaan dengan alasan,
“Gung aja yang rapiin, gue lagi pusing.”

Dede, mekanik senior, kalau ada kesalahan kecil bisa marah panjang.

“Dari dulu begini caranya! Jangan sok ngatur!”

Agung memilih diam.

Ia berpikir, mungkin memang begini dunia kerja.

Sore hari jadi waktu paling sibuk.

Unit yang selesai diperbaiki harus dipindah ke parkiran.
Unit yang akan diperbaiki harus dimasukkan ke bengkel.

Agung sering berdiri di antara dua truk besar, sendirian, mengatur posisi dengan hati-hati.

Kadang jam sudah lewat 18.30.

Langit sudah gelap.

Lampu bengkel masih menyala.

Dan ia masih di sana.

Malam hari tidak lagi sederhana.

Makan cepat.

Mandi cepat.

Buka laptop.

Karena laporan inventory tidak sempat disentuh siang tadi.

Semua pengeluaran sparepart harus dicatat.
Kalau tidak, besok bisa jadi masalah.

Di grup mekanik, pesan masuk satu per satu.

“Gung, ini masukin ya.”
“Gung, tadi ambil baut 4.”
“Gung, yang kemarin udah masuk belum?”

Agung membaca sambil menahan kantuk.

Jam 23.10.

Anaknya bergerak kecil di kamar sebelah.

Istrinya sudah tertidur.

Ia menatap layar laptop dan tiba-tiba merasa hening sekali.

Seperti tidak ada yang tahu betapa panjang harinya.

Suatu malam, storing mendadak.

Unit trouble di jalan.

Jiman memanggil.

“Siap berangkat, Gung?”

Tidak ada pertanyaan “bisa atau tidak”.

Hanya “siap atau tidak”.

Agung ikut sebagai driver antar mekanik.

Perjalanan pulang hampir jam 10 malam.

Besok paginya tetap masuk jam 8.

Tidak ada pengurangan jam kerja.

Tidak ada kompensasi tambahan yang jelas.

Yang ada hanya kalimat,
“Namanya juga kerja tim.”

Di rumah, istrinya mulai bertanya pelan.

“Jam kerja kamu sampai jam berapa sih sebenarnya?”

Agung terdiam sebentar.

Secara resmi sampai jam 5.

Secara nyata… tidak tahu.

Ia hanya menjawab,
“Kadang lagi banyak kerjaan.”

Ia tidak ingin terlihat mengeluh.

Karena dalam pikirannya, mengeluh itu tanda lemah.

Padahal yang mulai melemah bukan fisiknya.

Tapi semangatnya.

Suatu sore, saat semua sudah pulang, Agung duduk sendiri di bangku bengkel.

Lampu sebagian sudah mati.

Hanya satu lampu besar yang masih menyala.

Ia memijat pelan pergelangan tangannya.

Dan untuk pertama kalinya ia bertanya dalam hati:

“Kalau begini terus… apakah ada bedanya antara kerja keras dan dimanfaatkan?”

Pertanyaan itu tidak langsung dijawab.

Tapi sejak hari itu, rasa bangga yang dulu ia rasakan mulai bercampur dengan rasa lelah yang sulit dijelaskan.

Besoknya, pagi datang seperti biasa.

Suara mesin.

Bau solar.

Checklist di tangan.

Tapi ada yang berbeda.

Agung mulai sadar…

Jam kerja resmi hanya angka.

Yang sebenarnya berjalan tanpa batas adalah kesediaannya sendiri.


Quote :

“Batas jam kerja itu tertulis di papan absensi.
Tapi batas lelah seseorang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.”


Ide Cerita : emy_haw

Penulis : ChatGPT


 

Komentar

Postingan Populer