Jam Kerja Tanpa Batas (Eps 10)

 Usulan yang Menggantung

Setelah meeting evaluasi, suasana bengkel memang terlihat lebih rapi.

Tapi hanya di permukaan.

Pekerjaan tetap sama.

Target tetap tinggi.

Orang tetap segitu.

Dan P2H tetap dilakukan oleh orang yang itu-itu saja.

Termasuk Agung.

P2H bukan sekadar cek unit.

Itu pekerjaan fisik.

Angkat-angkat.

Masuk kolong unit.

Periksa rem, oli, selang, baut.

Kadang dalam panas.

Kadang dalam hujan.

Dan tidak semua orang mau melakukannya.

Bukan karena tidak bisa.

Tapi karena berat.

Suatu pagi, setelah hampir satu jam membungkuk di bawah unit, punggung Agung terasa nyeri.

Ia berdiri pelan.

Melihat dua unit lagi menunggu.

Sementara di mejanya, file inventory belum diupdate.

Ia sadar satu hal:

Ia tidak bisa terus seperti ini.

Fisik terkuras.

Pikiran terkuras.

Dua-duanya tidak bisa dipaksa sekaligus.

Siang itu ia menemui Jiman, SPV yang lebih sering berhubungan dengan pusat.

“Pak, saya mau usul soal P2H.”

Jiman mengangguk singkat.

“Apa lagi?”

Nada suaranya datar.

Tidak menolak.

Tapi juga tidak terlalu terbuka.

“Kita perlu tambahan orang di P2H, Pak. Minimal satu. Bebannya makin banyak, unit makin padat. Kalau saya harus bagi fokus ke inventory juga, hasilnya nggak maksimal.”

Jiman menyilangkan tangan.

“Orang kita cukup.”

“Cukup secara jumlah, Pak. Tapi nggak semua sanggup atau mau turun P2H rutin.”

Kalimat itu keluar pelan.

Tanpa menyindir siapa pun.

Hanya fakta.

Jiman menghela napas.

“Kita lihat dulu bulan ini. Kalau target stabil, baru dipikir.”

Kalimat yang terasa seperti ditunda.

Lagi.

Agung mengangguk.

“Baik, Pak.”

Keluar dari ruangan itu, perasaannya campur aduk.

Ia sudah mengusulkan.

Tapi belum ada titik terang.

Beberapa hari berjalan.

Tidak ada tambahan orang.

Tidak ada perubahan jadwal.

Agung mulai berpikir lebih jauh.

Jika sistem tidak bisa ditambah orang…

Mungkin perannya yang harus diatur ulang.

Sore itu, ia kembali menemui Jiman.

Kali ini dengan usulan berbeda.

“Pak, kalau memang belum bisa tambah orang, saya mau ajukan satu opsi.”

Jiman menatap.

“Apa?”

“Saya fokus full di P2H saja. Inventory dan admin bisa dialihkan ke orang baru atau dibentuk khusus. Karena P2H ini butuh fisik kuat dan konsisten. Kalau setengah-setengah, justru bahaya.”

Jiman terdiam.

Kalimat itu tidak sekadar soal tugas.

Itu soal posisi.

Agung melanjutkan dengan tenang,

“Kalau saya di inventory terus, P2H bisa keteteran. Tapi kalau saya di P2H full, saya bisa jaga kualitas. Untuk inventory mungkin bisa cari yang memang fokus administrasi.”

Ruangan hening beberapa detik.

Jiman tidak langsung menjawab.

Wajahnya terlihat berpikir.

Ini bukan sekadar pembagian kerja.

Ini soal struktur.

“Kamu yakin mau balik full P2H?”

Agung mengangguk.

“Saya lebih kuat di situ, Pak.”

Itu bukan mundur.

Itu memilih medan yang ia tahu bisa ia kuasai.

Jiman akhirnya berkata,

“Saya nggak bisa putuskan sekarang. Ini harus dibahas ke atas.”

Kalimat yang lagi-lagi menggantung.

Tapi kali ini berbeda.

Ada kemungkinan.

Walau kecil.

Keluar dari ruangan, Agung merasa lebih ringan daripada sebelumnya.

Bukan karena sudah dapat solusi.

Tapi karena ia sudah berhenti menunggu arah.

Ia mulai mengusulkan arah.

Ia sadar satu hal penting:

Mengakui batas bukan berarti kalah.

Kadang itu strategi.

Namun malam itu, saat ia kembali P2H sendirian di bawah unit terakhir, keringatnya bercampur lelah.

Ia tahu keputusan belum turun.

Dan selama itu belum turun…

Ia masih memegang dua dunia.

Fisik dan angka.

Dan keduanya menuntut sempurna.

Quote 

“Tidak semua perubahan datang dari protes.

Kadang ia lahir dari keberanian memilih peran yang paling kita kuasai.”


Ide Cerita : emy_haw

Penulis : ChatGpt



Komentar

Postingan Populer